Entah mengapa disudut sini
Semua manusia tercipta biru
mungkin karena seni
atau tetesan haru....
Terlebih mengagungkan ilmu
Hingga menelantarkan imajinasi
Dan beridealis semu
Mungkin paham itu yang mereka adopsi..
Selasa, 26 Februari 2013
Kamis, 03 Januari 2013
Persahabatan...
Sahabat adalah pemenuhan kebutuhan jiwa.
Dialah ladang hati, yang ditaburi dengan kasih dan dituai dengan penuh rasa terima kasih.
Sahabat adalah naungan sejuk keteduhan hati dan Api unggun kehangatan jiwa, karena akan dihampiri kala hati gersang kelaparan dan dicari saat jiwa mendamba kedamaian
Ketika ia menyampaikan pendapat, kalbu tak kuasa menghadang dengan bisikan kata “tidak”, dan tak pernah khawatir untuk menyembunyikan kata “ya”
Bilamana dia terdiam tanpa kata hati senantiasa mencari rahasianya
Dalam persahabatan yang tanpa kata, segala fikiran, hasrat, dan keinginan terangkum bersama, menyimpan keutuhan dengan kegembiraan tiada terkirakan.
Ketika tiba saat perpisahan janganlah ada duka, sebab yang paling kau kasihi dalam dirinya, mungkin akan nampak lebih cemerlang dari kejauhan.
Seperti gunung yang nampak lebih agung dari padang dan ngarai.
Lenyapkan maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya roh kejiwaan.
Karena cinta berpamrih yang mencari sesuatu di luar jangkauan misterinya,
bukanlah cinta, tetapi sebuah jaring yang ditebarkan ke udara
hanya menangkap kekosongan semata
'Sahabat kan mengisi kekuranganmu bukan mengisi kekosonganmu.'
Persembahkan yang terindah bagi persahabatan. Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah diamengenali pula musim pasangmu.Karena persahabatan kan kehilangan makna jika mencarinya sekadar bersama guna membunuh waktuCarilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu
Sahabat kan mengisi kekuranganmu bukan mengisi kekosonganmu.
Dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa kegirangan
Berbagi duka dan kesenangan Karena dalam rintik lembut embun, hati manusia menghirup fajar yang terbangun dan kesegaran gairah kehidupan.
Dialah ladang hati, yang ditaburi dengan kasih dan dituai dengan penuh rasa terima kasih.
Sahabat adalah naungan sejuk keteduhan hati dan Api unggun kehangatan jiwa, karena akan dihampiri kala hati gersang kelaparan dan dicari saat jiwa mendamba kedamaian
Ketika ia menyampaikan pendapat, kalbu tak kuasa menghadang dengan bisikan kata “tidak”, dan tak pernah khawatir untuk menyembunyikan kata “ya”
Bilamana dia terdiam tanpa kata hati senantiasa mencari rahasianya
Dalam persahabatan yang tanpa kata, segala fikiran, hasrat, dan keinginan terangkum bersama, menyimpan keutuhan dengan kegembiraan tiada terkirakan.
Ketika tiba saat perpisahan janganlah ada duka, sebab yang paling kau kasihi dalam dirinya, mungkin akan nampak lebih cemerlang dari kejauhan.
Seperti gunung yang nampak lebih agung dari padang dan ngarai.
Lenyapkan maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya roh kejiwaan.
Karena cinta berpamrih yang mencari sesuatu di luar jangkauan misterinya,
bukanlah cinta, tetapi sebuah jaring yang ditebarkan ke udara
hanya menangkap kekosongan semata
Persembahkan yang terindah bagi persahabatan. Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah diamengenali pula musim pasangmu.Karena persahabatan kan kehilangan makna jika mencarinya sekadar bersama guna membunuh waktuCarilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu
Sahabat kan mengisi kekuranganmu bukan mengisi kekosonganmu.
Dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa kegirangan
Berbagi duka dan kesenangan Karena dalam rintik lembut embun, hati manusia menghirup fajar yang terbangun dan kesegaran gairah kehidupan.
Kamis, 22 November 2012
Friedrich Schiller
Engkaulah salah satu Refrensi terbaruku...
Kali ini yang ditafsir puisi bertitel puisi, maka kan kucoba memandangi apa itu puisi, dari sudut yang disesuaikan, atau tentu tidak jauh sedari pantulan karya Schiller di atas.
Penyair bersama guratannya tak dapat dilepaskan, keduanya menyatu hingga mencapai bentuk unik berbeda corak, atas para penyair atau pun karya orang lain.
Serupa bayang pribadi, tapi tak hanya bayangan semata, namun menjelma sosok saudara kembar.
Hal itu sampai jikalau mampu bebaskan ekspresi jiwa tanpa disekat belenggu hari-hari, selain bersetia pada jalan yang diyakini, inilah makna kebebasan pengarang.
Sebab Schiller mendalami dunia drama, maka kuhendak memasuki puisinya lewat tubuh pencarian di atas panggung, berusaha malakonkan dirinya tengah mengejawantah kalbu fikiran dikelanakan di rimba kata.
Segerak-geliat gelisahnya menelisiki sejarah yang dihidupi, menghadapi masa-masa diandaikan. Untuknya kukupas satu bait satu bait dengan keliaran menyusuri gubahannya, semoga bisa dipetik dan peroleh bebunga hikmah.
Puisi merupakan aktor lihai juga cerdas di panggung kehidupan, filsafat menyerupai tokoh tua yang suntuk membolak-balikkan buku di perpustakaan, agama jadi seorang pertapa yang kadang keluyuran ke pasar.
Ilmu perbintangan mewakili peramal yang manjur menyingkap hijab, kimia bersandiwara pesulap tak kalah hebat, matematika bagai guru kolot, sedang fisika mewakili aktor pemahat.
Sejarah adalah naskah sedang dimainkan, bisa berubah sesuai keinginan sutradara, dan puisi hampir mendekati penari yang menghiasi setiap pertunjukan.
Membuka dunia Schiller; penari atau puisi tiada belenggu baginya, memainkan tarian lincah tak ada penghalang kaki-kaki, andai tempat duduk penonton dibagi dua, tetap mampu menguasai letak pementasan.
Aktor yang menghaluskan persoalan panggung kehidupan, tiada kehendak memberi ceramah tapi warna lintasannya menebarkan pengertian, kembang ditaburkan dalam gerak beredar di ubun-ubun pengunjung.
Barang siapa terima senyumannya diperoleh keharuman pesona bukan menghantar terlena, ke pemahaman tiada terasa hati hadirin berbunga, tepuk tangan tak disengaja serempak berpaduan suara mengalung kharisma.
Nalarnya digerakkan kalbu ditarik kekuatan semesta, gemulai kata-kata membebaskan jiwa jahiliah, tubuh terus berpusar bagai tarian balet beraliran mistik memikat, tak ada kedipan mata meski lelap sedetik.
Menerbangkan selendang naluriah melampaui angan orang di gedung pertunjukan meleburkan diri, seakan dibetot kesilapan menjauhkan tubuh sedari bayangan.
Kelebatan selendang berwarna-warni menggayuh cakrawala panggung kesaksian, cahaya dan gelap bersimpan daya suatu saat rasuki jiwa meresapi sukma sepi, orang-orang melihatnya pun merasai.
Begitu pula menarikan tarian pedang, disayatnya hati penyaksi atas kilatan berlesatan, suara petir berbenturan lempengan faham yang hendak sempurna.
Pembaca mendedah betul permainan kata meski menusuk rongga dada diberi kerelaan, artinya diwedarkan alunan kalimah dicecapnya bibir haus kuluman hangat indrawi.
Yang tiada tampak dipunggah ke lautan firasat, dijejaknya kesadaran gemerincing binggel kaki penari mengalun lagu diam, gemulai memabukkan.
Ketika memuncak hening, dinaya meruah menyirap mata, bibir-bibir terkatup takjub tak tersangka dari bathiniah terbebani hayat menggila, perih perasaan pedihnya mendera, diperasnya demi temukan intisari karya.
Panggung lenyap wujud lembaran kertas musnah, tinggal tetembangan kata melukis makna lekukan tubuh melupakan segala kecuali peleburan, asyik menjelajahi bulir hujan setiap tekukan, selenggok perayu menyirap turut serta pribadi rahasia.
Kematangan hari silam menuai ajaib berulang, kala puisi menarikan awang-uwung kemungkinan, lebur pemahaman ke pusaran hidup berkesungguhan.
Memang tiada yang menghalang
daya pujangga merdeka;
Tapi tiada lebih indah kujumpai
betapapun lama memilih
Selain jiwa yang permai
dalam bentuk puisi.
-Puisi - Friedrich Schiller-
Penari maupun puisi sama-sama miliki linuwih, tangguh seimbangkan diri mengolah tubuh berkata, mendedah perikehidupan lewati latihan berulang, memilih tepat guna ke alunan nada gerakan luwes.
Di sini jiwa permai Schiller mencecap manisnya, watak ampuh pujangga menembangkan kalimah, melatih otot tekukan kata membolak-balik jasad anggun seirama jiwa dendangkan bathin tak mau berpisah.
Sedari peristiwa sejuk hangat tengah bergulir, luapan keharuan tubuh kesegaran, nafas-nafas keluar masuk kefitrian niscaya.
Tiada mampu halangi ketika tarian menderas kata membelukar padat, bunga nilai hentakan pinggul penari atas goyangan mengharu sebait menyentak menyentuh birahi.
Membujur dalam keintiman, alam panggung dirinya, puisi bersama maknanya, penyair berjiwa kelana, bayu kehidupan gerakkan dinaya memulangkan terperih menuju muara.
Schiller menikmati surgawi berpuisi, penari meneguk kelezatan badani melantak panggung seolah malam-malam baginya semata.
"Dan kata menjadi sayapku, bebas melayang terbang" -Friedrich Schiller-
Kali ini yang ditafsir puisi bertitel puisi, maka kan kucoba memandangi apa itu puisi, dari sudut yang disesuaikan, atau tentu tidak jauh sedari pantulan karya Schiller di atas.
Penyair bersama guratannya tak dapat dilepaskan, keduanya menyatu hingga mencapai bentuk unik berbeda corak, atas para penyair atau pun karya orang lain.
Serupa bayang pribadi, tapi tak hanya bayangan semata, namun menjelma sosok saudara kembar.
Hal itu sampai jikalau mampu bebaskan ekspresi jiwa tanpa disekat belenggu hari-hari, selain bersetia pada jalan yang diyakini, inilah makna kebebasan pengarang.
Sebab Schiller mendalami dunia drama, maka kuhendak memasuki puisinya lewat tubuh pencarian di atas panggung, berusaha malakonkan dirinya tengah mengejawantah kalbu fikiran dikelanakan di rimba kata.
Segerak-geliat gelisahnya menelisiki sejarah yang dihidupi, menghadapi masa-masa diandaikan. Untuknya kukupas satu bait satu bait dengan keliaran menyusuri gubahannya, semoga bisa dipetik dan peroleh bebunga hikmah.
Puisi merupakan aktor lihai juga cerdas di panggung kehidupan, filsafat menyerupai tokoh tua yang suntuk membolak-balikkan buku di perpustakaan, agama jadi seorang pertapa yang kadang keluyuran ke pasar.
Ilmu perbintangan mewakili peramal yang manjur menyingkap hijab, kimia bersandiwara pesulap tak kalah hebat, matematika bagai guru kolot, sedang fisika mewakili aktor pemahat.
Sejarah adalah naskah sedang dimainkan, bisa berubah sesuai keinginan sutradara, dan puisi hampir mendekati penari yang menghiasi setiap pertunjukan.
Membuka dunia Schiller; penari atau puisi tiada belenggu baginya, memainkan tarian lincah tak ada penghalang kaki-kaki, andai tempat duduk penonton dibagi dua, tetap mampu menguasai letak pementasan.
Aktor yang menghaluskan persoalan panggung kehidupan, tiada kehendak memberi ceramah tapi warna lintasannya menebarkan pengertian, kembang ditaburkan dalam gerak beredar di ubun-ubun pengunjung.
Barang siapa terima senyumannya diperoleh keharuman pesona bukan menghantar terlena, ke pemahaman tiada terasa hati hadirin berbunga, tepuk tangan tak disengaja serempak berpaduan suara mengalung kharisma.
Nalarnya digerakkan kalbu ditarik kekuatan semesta, gemulai kata-kata membebaskan jiwa jahiliah, tubuh terus berpusar bagai tarian balet beraliran mistik memikat, tak ada kedipan mata meski lelap sedetik.
Menerbangkan selendang naluriah melampaui angan orang di gedung pertunjukan meleburkan diri, seakan dibetot kesilapan menjauhkan tubuh sedari bayangan.
Kelebatan selendang berwarna-warni menggayuh cakrawala panggung kesaksian, cahaya dan gelap bersimpan daya suatu saat rasuki jiwa meresapi sukma sepi, orang-orang melihatnya pun merasai.
Begitu pula menarikan tarian pedang, disayatnya hati penyaksi atas kilatan berlesatan, suara petir berbenturan lempengan faham yang hendak sempurna.
Pembaca mendedah betul permainan kata meski menusuk rongga dada diberi kerelaan, artinya diwedarkan alunan kalimah dicecapnya bibir haus kuluman hangat indrawi.
Yang tiada tampak dipunggah ke lautan firasat, dijejaknya kesadaran gemerincing binggel kaki penari mengalun lagu diam, gemulai memabukkan.
Ketika memuncak hening, dinaya meruah menyirap mata, bibir-bibir terkatup takjub tak tersangka dari bathiniah terbebani hayat menggila, perih perasaan pedihnya mendera, diperasnya demi temukan intisari karya.
Panggung lenyap wujud lembaran kertas musnah, tinggal tetembangan kata melukis makna lekukan tubuh melupakan segala kecuali peleburan, asyik menjelajahi bulir hujan setiap tekukan, selenggok perayu menyirap turut serta pribadi rahasia.
Kematangan hari silam menuai ajaib berulang, kala puisi menarikan awang-uwung kemungkinan, lebur pemahaman ke pusaran hidup berkesungguhan.
Memang tiada yang menghalang
daya pujangga merdeka;
Tapi tiada lebih indah kujumpai
betapapun lama memilih
Selain jiwa yang permai
dalam bentuk puisi.
-Puisi - Friedrich Schiller-
Penari maupun puisi sama-sama miliki linuwih, tangguh seimbangkan diri mengolah tubuh berkata, mendedah perikehidupan lewati latihan berulang, memilih tepat guna ke alunan nada gerakan luwes.
Di sini jiwa permai Schiller mencecap manisnya, watak ampuh pujangga menembangkan kalimah, melatih otot tekukan kata membolak-balik jasad anggun seirama jiwa dendangkan bathin tak mau berpisah.
Sedari peristiwa sejuk hangat tengah bergulir, luapan keharuan tubuh kesegaran, nafas-nafas keluar masuk kefitrian niscaya.
Tiada mampu halangi ketika tarian menderas kata membelukar padat, bunga nilai hentakan pinggul penari atas goyangan mengharu sebait menyentak menyentuh birahi.
Membujur dalam keintiman, alam panggung dirinya, puisi bersama maknanya, penyair berjiwa kelana, bayu kehidupan gerakkan dinaya memulangkan terperih menuju muara.
Schiller menikmati surgawi berpuisi, penari meneguk kelezatan badani melantak panggung seolah malam-malam baginya semata.
"Dan kata menjadi sayapku, bebas melayang terbang" -Friedrich Schiller-
Rabu, 17 Oktober 2012
Rencana Tuhan itu sungguh unik
sedikit berbagi akan sepenggal kisahku yang terus mengejar harapan..
tepat setelah Ujian Nasional rencana yang semulanya manis mengalami sedikit perubahan. dulu aku sangat bercita-cita ingin menjadi bagian dari keluarga besar Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Namun, ya mungkin inilah yang dinamakan Rencana Tuhan itu Unik. Impian itu melenceng sangat jauh hinggap menepi di daratan biru.
hari itu selepas melaksanakan ritual akhir pelajar Indonesia yaitu UN, kami lekas melakukan sedikit Euforia dengan melakukan ajang bercorat-coret pakaian yang tanpa terasa 3 tahun sudah melekat pada tubuh ini. selang beberapa menitakhirnya kami pun lelah penuh tawa karena mungkin ini moment terakhir kami sebagai pelajar SMA dengan menggunakan seragam putih abu-abu itu. aku pun bergegas pulang namun sebelumnya aku menyinggahi yang bisa dibilang rumah keduaku yaitu kediaman seorang kawanku yang telah lama aku tumpangi. membersihkan badan, merapihkan seragam yang telah kotor dengan kenangan, dan seragam harus kuakhiri masa sekolahku diwaktu ini. sedih bercampur senang itulah kelabilan anak seusiaku. tak lupa juga aku menumpang makan sebagai tindakan menghemat biaya.
Honda CB ku hidupkan lekas akupun beranjak menuju tempat tinggalku. ketika sedang meluncur diatas aspal jalanan, sedikit berfikir lekas seperti apa ketikaku menjelang usia senja nanti? orang sukseskah, pemuda berhati lapangkah, atau hanya manusia yang menyesal akibat terlalu menghambur waktu dimasa mudakah?. ah sial! ini pertanyaan terbesarku hingga tak seorangpun menjawabnya. Tibalah aku dirumah yang selama ini kunaungi lantas segera aku mengganti pakaian untuk segera beristirahat. selang beberapa saat ayahku memanggil dengan maksud ingin berdiskusi sedikit. ia pun bertanya ingin melanjutkan kemana ketikaku telah lulus dari sekola. aku pun dengan tegas menjawab ingin meneruskan ke IKJ karena itu impian terkuatku. dengan ramah ia pun menawarkan aku untuk meneruskan pendidikan ke luar yaitu Jerman tepatnya. aku sedikit terperangah namun kosong karena tidak disangka aku mendapat tawaran itu. aku belum terlalu yakin dengan tawaran tersebut.
selang kemudian hari salah satu dari saudaraku menelfon aku dengan mengajak bertemu. aku pun bertemu dengannya lebih tepatnya ia salah satu dari sekian banyak tanteku. melalui nada lembut serta keyakinan ia menjelas bahwa jika aku meneruskan kuliah ke Jerman prospek masa depanku bisa dibilang lebih bercahaya. dibuatnya pusing otakku bekerja, menelisik, menerawang tentang Jerman. yasudah disaat itu aku mulai aktif mengikuti berbagai seminar tentang lebih jauh untuk menjejaki negeri bangsa bavaria tersebut.
das alles ist Deutschland
suatu waktu aku termenung berada diruang yang selama ini kuanggap sebagai pencetus Mimpi-Mimpiku yaitu kamarku. mungkin Tuhan selalu memperhatikanku atau malah kasihan terhadapku dengan memberi bermacam-macam kesempatan. daya nalarku belum mampu menembus apa yang Tuhan fikirkan tentang seorang Hambanya yang baru saja membereskan masa sekolahnya. air matapun tak dapat bertahan dipelupuk mataku ia terus terjatuh tak tahu berapa kawannya yang sudah ikut terjatuhpun.
mulai saat itu kuniatkan tekadkan untuk menapaki kedua kakiku di Negara yang dahulu terkenal akan kekejian Adolf Hitler. kunaikan semangat menuju gigi 3 untuk lebih meyakini bahwa Jerman ialah tempatku memperoleh Ijazah. Jerman, Jerman, dan Jerman itulah impianku sekarang.
aku semakin yakin terhadap nyatanya Tuhan karena entah ia berada dimana namun selalu memeluk Mimpi-Mimpi hambanya yang tiada hentinya berangan agar selalu menuju perbaikan diri dari hari kemarin.
akan kubuktikan kepadamu Tuhan, Ayah, serta Bundaku bahwa ketika aku tiba di Negeri yang selama ini telah berani membuatku Bermimpi. aku akan pulang dengan kepala Menenggak melainkan bukan untuk Menunduk!
"Jangan pernah rasa Takut menghalangimu untuk berani Bermimpi!"
tepat setelah Ujian Nasional rencana yang semulanya manis mengalami sedikit perubahan. dulu aku sangat bercita-cita ingin menjadi bagian dari keluarga besar Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Namun, ya mungkin inilah yang dinamakan Rencana Tuhan itu Unik. Impian itu melenceng sangat jauh hinggap menepi di daratan biru.
hari itu selepas melaksanakan ritual akhir pelajar Indonesia yaitu UN, kami lekas melakukan sedikit Euforia dengan melakukan ajang bercorat-coret pakaian yang tanpa terasa 3 tahun sudah melekat pada tubuh ini. selang beberapa menitakhirnya kami pun lelah penuh tawa karena mungkin ini moment terakhir kami sebagai pelajar SMA dengan menggunakan seragam putih abu-abu itu. aku pun bergegas pulang namun sebelumnya aku menyinggahi yang bisa dibilang rumah keduaku yaitu kediaman seorang kawanku yang telah lama aku tumpangi. membersihkan badan, merapihkan seragam yang telah kotor dengan kenangan, dan seragam harus kuakhiri masa sekolahku diwaktu ini. sedih bercampur senang itulah kelabilan anak seusiaku. tak lupa juga aku menumpang makan sebagai tindakan menghemat biaya.
Honda CB ku hidupkan lekas akupun beranjak menuju tempat tinggalku. ketika sedang meluncur diatas aspal jalanan, sedikit berfikir lekas seperti apa ketikaku menjelang usia senja nanti? orang sukseskah, pemuda berhati lapangkah, atau hanya manusia yang menyesal akibat terlalu menghambur waktu dimasa mudakah?. ah sial! ini pertanyaan terbesarku hingga tak seorangpun menjawabnya. Tibalah aku dirumah yang selama ini kunaungi lantas segera aku mengganti pakaian untuk segera beristirahat. selang beberapa saat ayahku memanggil dengan maksud ingin berdiskusi sedikit. ia pun bertanya ingin melanjutkan kemana ketikaku telah lulus dari sekola. aku pun dengan tegas menjawab ingin meneruskan ke IKJ karena itu impian terkuatku. dengan ramah ia pun menawarkan aku untuk meneruskan pendidikan ke luar yaitu Jerman tepatnya. aku sedikit terperangah namun kosong karena tidak disangka aku mendapat tawaran itu. aku belum terlalu yakin dengan tawaran tersebut.
selang kemudian hari salah satu dari saudaraku menelfon aku dengan mengajak bertemu. aku pun bertemu dengannya lebih tepatnya ia salah satu dari sekian banyak tanteku. melalui nada lembut serta keyakinan ia menjelas bahwa jika aku meneruskan kuliah ke Jerman prospek masa depanku bisa dibilang lebih bercahaya. dibuatnya pusing otakku bekerja, menelisik, menerawang tentang Jerman. yasudah disaat itu aku mulai aktif mengikuti berbagai seminar tentang lebih jauh untuk menjejaki negeri bangsa bavaria tersebut.
das alles ist Deutschland
suatu waktu aku termenung berada diruang yang selama ini kuanggap sebagai pencetus Mimpi-Mimpiku yaitu kamarku. mungkin Tuhan selalu memperhatikanku atau malah kasihan terhadapku dengan memberi bermacam-macam kesempatan. daya nalarku belum mampu menembus apa yang Tuhan fikirkan tentang seorang Hambanya yang baru saja membereskan masa sekolahnya. air matapun tak dapat bertahan dipelupuk mataku ia terus terjatuh tak tahu berapa kawannya yang sudah ikut terjatuhpun.
mulai saat itu kuniatkan tekadkan untuk menapaki kedua kakiku di Negara yang dahulu terkenal akan kekejian Adolf Hitler. kunaikan semangat menuju gigi 3 untuk lebih meyakini bahwa Jerman ialah tempatku memperoleh Ijazah. Jerman, Jerman, dan Jerman itulah impianku sekarang.
aku semakin yakin terhadap nyatanya Tuhan karena entah ia berada dimana namun selalu memeluk Mimpi-Mimpi hambanya yang tiada hentinya berangan agar selalu menuju perbaikan diri dari hari kemarin.
akan kubuktikan kepadamu Tuhan, Ayah, serta Bundaku bahwa ketika aku tiba di Negeri yang selama ini telah berani membuatku Bermimpi. aku akan pulang dengan kepala Menenggak melainkan bukan untuk Menunduk!
"Jangan pernah rasa Takut menghalangimu untuk berani Bermimpi!"
Senin, 09 April 2012
Sentuhan Violet
Selepas hujan ku merenung
Akan semua yang kuperbuat hingga saat ini
Mungkin sepenggal mozaik hidupku
Yang bertarung bagai pejuang
Mari kita tinggalkan kesenangan duniawi
Karena usia kita akan segera lenyap
Dan hari-hari akan musnah bagai bayangan
Jika aku harus bermimpi!
Aku percaya bahwa Tuhan mendengar semua mimpimu
Meski ketakutan dan berentingan
Aku percaya pada Al-qur’an
Yang akan memeluk harapan ini
Matahari pun tenggelam dibalik Cakrawala
Seakan tak kuasa menggenggam dosa
Mari pertajam imajinasi!
Keindahan dunia ialah Keindahan sekuntum Violet. Dan keindahan
Violet adalah keindahan kelopak-kelopaknya. Kita akan dapat menikmati Keindahan
Dunia dengan menelusuri kelopak-kelopaknya yaitu jiwa Manusia
Senin, 02 April 2012
Koln, Kota Penuh Sejarah di Tepian Sungai Cinta

Apa yang terbersit saat kita melihat bangunan megah ini? Mengagumkan…Ini adalah salah satu bangunan utama bersejarah di Koln. Bangunan tua dengan arsitektur gothic ini adalah Cologne Cathedral Church yang dibangun pada tahun 1248 dan selesai pada tahun 1880. Menara gerejanya memiliki ketinggian sampai 157 meter. Dengan luas mencapai 144,5 meter dan luas 86,5 meter, gereja ini dinobatkan sebagai salah satu gereja Katedral terbesar di dunia dan merupakan gereja gothic terbesar di Eropa Utara.
Semua yang ada pada gereja ini sangatlah memukau. Sebagai bukti dari jerat pesonanya, diperkirakan ada 20.000 orang berkunjung setiap harinya… Untuk semua ketersohorannya ini, maka UNESCO menjadikannya sebagai situs budaya warisan dunia dengan status sebagai “exceptional work of human creative genius”. Gelar lainnya adalah juga sebagai salah satu monumen dangan arsitektur terbaik di seluruh Jerman…


Koln memang menyimpan banyak harta karun. Keindahan kota tuanya merupakan investasi tiada duanya bagi geliat dunia pariwisatanya. Kota yang hanya berjarak 3 jam dari Amsterdam ini terletak tepi sungai Rhine, sekitar 90 kilometer barat laut kota Frankurt.
Pembangunan infrastruktur di Koln sangat baik adanya. Dibangun untuk menunjang segala kegiatan perekonomian, wisata ataupun kehidupan masyarakatnya. Salah satunya adalah pembangunan jembatan indah ini. Saat malam tiba, maka jembatan bernama Hohenzollern Cologne Bridge ini akan begitu bersinar, penuh dengan gemerlap lampu. Panjangnya mencapai 1,4 kilometer. Jembatan Hohenzollern melintas di atas Rhein pada kilometer 688,5. Peruntukkan jembatan ini pada awalnya dipergunakan untuk rel kereta api dan jalan raya, namun setelah tahun 1945, jembatan ini hanya dipergunakan bagi kereta api dan tersedia pula trotoar bagi pejalan kaki.

Hohenzollern adalah jembatan tersibuk di Jerman, menghubungkan Köln Hauptbahnhof dan Stasiun Köln Messe. Desainnya bertemakan Jembatan pelengkung terikat. Dibangun pada tahun 1946 dengan bahan dermaga beton dengan superstruktur baja. Pembangunan mega proyek inipun akhirnya rampung pada tahun 1948. Transportasi penunjang lainnya adalah kapal-kapal yang dapat membawa kita melintasi sungai Rhein. Dari kapal-kapal ini kita dapat menikmati eloknya sungai Rhein. Pada malam hari, perjalanan dengan kapal-kapal ini akan terasa lebih romantis dikarenakan cahaya-cahaya lampu jembatan yang memantul di air sungai Rhein, yang dikenal juga dengan julukan sungai cinta…
Selasa, 27 Maret 2012
Panggilan Rindu
Dimanakah engkau, kekasihku. Adakah engkau di taman
mungil itu, menyiram bunga bunga yang terlena menatapmu, seperti bayi di
hadapan susu ibunya?
Atau diantara buku buku, mencari pengetahuan manusia,
sementara engkau telah penuh dengan hikmah surgawi?
Duhai belahan jiwaku, dimanakah engkau? Adakah engkau ditaman itu? Atau
menyeru alam di lading, menggayuh angan dan mimpi?
Engkau adalah roh Tuhan yang ada dimana mana, engkau
lebih perkasa dari waktu. Adakah engkau ingat saat pertama kita berjumpa, kala
cahaya jiwamu menyinari kita, dan dewi cinta mengitari, mendendangkan lagu
jiwa?
Adakah engkau ingat kala kita duduk di bawah keteduhan
dedaunan, yang melindungi kita dari kemanusiaan, bagaikan payung yang
melindungi rahasia hati dari segala luka.
Ingatkah saat ketika aku mengatakan selamat tinggal, dan
engkau berikan kecupan surge di bibirku. Ciuman itu mengajariku bahwa bibir
yang terpagut di dalam cinta, menyingkapkan rahasia langit yang tak terucap
oleh lidah!
Aku Rindu, benar benar Rindu
Aku ingat ketika engkau mencium dan menciumku, dengan air
mata membasahi pipi, dan emgkau katakana, “ badan duniawi haus sering berpisah demi
tujuan duniawi dan hidup jauh karena maksud duniawi pula. Namun jiwa kita tetap
bersatu dalam genggaman cinta, hingga maut dating, dan menyatukan kita di dalam
Tuhan “
“ pergilah engkau kekasihku, cinta telah memilihmu
sebagai utusannya, taatilah cinta, karena ia adalah keindahan yang membagikan
manisnya kehidupan kepada para pengikutnya. Meski tanganku hampa, cintamu tetap
menjadi pembelai yang kutunggu, kenanganmu adalah persandingan yang abadi “
Adakah engkau memajang rautku di dinding kenanganmu? Gambaran
itu tak lagi mirip wajahku karena nestapa telah memulas wajahku dengan
warnanya.
Keluh kesah telah menghias mataku yang selalu
membayangkan kecantikanmu.
Biarkan tetes air ini menyampaikan Rinduku
Dimanakah engkau kekasih? Adakah engkau dengar jeritanku
ini dari sebrang lautan sana? Adakah engkau mengerti kehendakku?
Dimanakah engkau bintang kejoraku? Hidup menjadi kabur
tanpa kehadiranmu, nestapa tekah menguasaiku. Layarkan senyum senyummu ke
angkasa, ia akan menjangkau dan menghidupkanku. Tebarkan aromamu ke udara, ia
akan menopangku.
Dimanakah engkau kekasih? Duhai, betapa agungnya cinta
dan betapa kerdilnya diriku !
Langganan:
Postingan (Atom)






