Rabu, 17 Oktober 2012

Rencana Tuhan itu sungguh unik

sedikit berbagi akan sepenggal kisahku yang terus mengejar harapan..

tepat setelah Ujian Nasional rencana yang semulanya manis mengalami sedikit perubahan. dulu aku sangat bercita-cita ingin menjadi bagian dari keluarga besar Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Namun, ya mungkin inilah yang dinamakan Rencana Tuhan itu Unik. Impian itu melenceng sangat jauh hinggap menepi di daratan biru.
hari itu selepas melaksanakan ritual akhir pelajar Indonesia yaitu UN, kami lekas melakukan sedikit Euforia dengan melakukan ajang bercorat-coret pakaian yang tanpa terasa 3 tahun sudah melekat pada tubuh ini. selang beberapa menitakhirnya kami pun lelah penuh tawa karena mungkin ini moment terakhir kami sebagai pelajar SMA dengan menggunakan seragam putih abu-abu itu. aku pun bergegas pulang namun sebelumnya aku menyinggahi yang bisa dibilang rumah keduaku yaitu kediaman seorang kawanku yang telah lama aku tumpangi. membersihkan badan, merapihkan seragam yang telah kotor dengan kenangan, dan seragam harus kuakhiri masa sekolahku diwaktu ini. sedih bercampur senang itulah kelabilan anak seusiaku. tak lupa juga aku menumpang makan sebagai tindakan menghemat biaya.

Honda CB ku hidupkan lekas akupun beranjak menuju tempat tinggalku. ketika sedang meluncur diatas aspal jalanan, sedikit berfikir lekas seperti apa ketikaku menjelang usia senja nanti? orang sukseskah, pemuda berhati lapangkah, atau hanya manusia yang menyesal akibat terlalu menghambur waktu dimasa mudakah?. ah sial! ini pertanyaan terbesarku hingga tak seorangpun menjawabnya. Tibalah aku dirumah yang selama ini kunaungi lantas segera aku mengganti pakaian untuk segera beristirahat. selang beberapa saat ayahku memanggil dengan maksud ingin berdiskusi sedikit. ia pun bertanya ingin melanjutkan kemana ketikaku telah lulus dari sekola. aku pun dengan tegas menjawab ingin meneruskan ke IKJ karena itu impian terkuatku. dengan ramah ia pun menawarkan aku untuk meneruskan pendidikan ke luar yaitu Jerman tepatnya. aku sedikit terperangah namun kosong karena tidak disangka aku mendapat tawaran itu. aku belum terlalu yakin dengan tawaran tersebut.
selang kemudian hari salah satu dari saudaraku menelfon aku dengan mengajak bertemu. aku pun bertemu dengannya lebih tepatnya ia salah satu dari sekian banyak tanteku. melalui nada lembut serta keyakinan ia menjelas bahwa jika aku meneruskan kuliah ke Jerman prospek masa depanku bisa dibilang lebih bercahaya. dibuatnya pusing otakku bekerja, menelisik, menerawang tentang Jerman. yasudah disaat itu aku mulai aktif mengikuti berbagai seminar tentang lebih jauh untuk menjejaki negeri bangsa bavaria tersebut.

                                                          das alles ist Deutschland

suatu waktu aku termenung berada diruang yang selama ini kuanggap sebagai pencetus Mimpi-Mimpiku yaitu kamarku. mungkin Tuhan selalu memperhatikanku atau malah kasihan terhadapku dengan memberi bermacam-macam kesempatan. daya nalarku belum mampu menembus apa yang Tuhan fikirkan tentang seorang Hambanya yang baru saja membereskan masa sekolahnya. air matapun tak dapat bertahan dipelupuk mataku ia terus terjatuh tak tahu berapa kawannya yang sudah ikut terjatuhpun.

mulai saat itu kuniatkan tekadkan untuk menapaki kedua kakiku di Negara yang dahulu terkenal akan kekejian Adolf Hitler. kunaikan semangat menuju gigi 3 untuk lebih meyakini bahwa Jerman ialah tempatku memperoleh Ijazah. Jerman, Jerman, dan Jerman itulah impianku sekarang.

aku semakin yakin terhadap nyatanya Tuhan karena entah ia berada dimana namun selalu memeluk Mimpi-Mimpi hambanya yang tiada hentinya berangan agar selalu menuju perbaikan diri dari hari kemarin.

akan kubuktikan kepadamu Tuhan, Ayah, serta Bundaku bahwa ketika aku tiba di Negeri yang selama ini telah berani membuatku Bermimpi. aku akan pulang dengan kepala Menenggak melainkan bukan untuk Menunduk!
                         "Jangan pernah rasa Takut menghalangimu untuk berani Bermimpi!"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar