Dimanakah engkau, kekasihku. Adakah engkau di taman
mungil itu, menyiram bunga bunga yang terlena menatapmu, seperti bayi di
hadapan susu ibunya?
Atau diantara buku buku, mencari pengetahuan manusia,
sementara engkau telah penuh dengan hikmah surgawi?
Duhai belahan jiwaku, dimanakah engkau? Adakah engkau ditaman itu? Atau
menyeru alam di lading, menggayuh angan dan mimpi?
Engkau adalah roh Tuhan yang ada dimana mana, engkau
lebih perkasa dari waktu. Adakah engkau ingat saat pertama kita berjumpa, kala
cahaya jiwamu menyinari kita, dan dewi cinta mengitari, mendendangkan lagu
jiwa?
Adakah engkau ingat kala kita duduk di bawah keteduhan
dedaunan, yang melindungi kita dari kemanusiaan, bagaikan payung yang
melindungi rahasia hati dari segala luka.
Ingatkah saat ketika aku mengatakan selamat tinggal, dan
engkau berikan kecupan surge di bibirku. Ciuman itu mengajariku bahwa bibir
yang terpagut di dalam cinta, menyingkapkan rahasia langit yang tak terucap
oleh lidah!
Aku Rindu, benar benar Rindu
Aku ingat ketika engkau mencium dan menciumku, dengan air
mata membasahi pipi, dan emgkau katakana, “ badan duniawi haus sering berpisah demi
tujuan duniawi dan hidup jauh karena maksud duniawi pula. Namun jiwa kita tetap
bersatu dalam genggaman cinta, hingga maut dating, dan menyatukan kita di dalam
Tuhan “
“ pergilah engkau kekasihku, cinta telah memilihmu
sebagai utusannya, taatilah cinta, karena ia adalah keindahan yang membagikan
manisnya kehidupan kepada para pengikutnya. Meski tanganku hampa, cintamu tetap
menjadi pembelai yang kutunggu, kenanganmu adalah persandingan yang abadi “
Adakah engkau memajang rautku di dinding kenanganmu? Gambaran
itu tak lagi mirip wajahku karena nestapa telah memulas wajahku dengan
warnanya.
Keluh kesah telah menghias mataku yang selalu
membayangkan kecantikanmu.
Biarkan tetes air ini menyampaikan Rinduku
Dimanakah engkau kekasih? Adakah engkau dengar jeritanku
ini dari sebrang lautan sana? Adakah engkau mengerti kehendakku?
Dimanakah engkau bintang kejoraku? Hidup menjadi kabur
tanpa kehadiranmu, nestapa tekah menguasaiku. Layarkan senyum senyummu ke
angkasa, ia akan menjangkau dan menghidupkanku. Tebarkan aromamu ke udara, ia
akan menopangku.
Dimanakah engkau kekasih? Duhai, betapa agungnya cinta
dan betapa kerdilnya diriku !


alay
BalasHapus