Selasa, 27 Maret 2012

Panggilan Rindu


Dimanakah engkau, kekasihku. Adakah engkau di taman mungil itu, menyiram bunga bunga yang terlena menatapmu, seperti bayi di hadapan susu ibunya?
Atau diantara buku buku, mencari pengetahuan manusia, sementara engkau telah penuh dengan hikmah surgawi?
Duhai belahan jiwaku,  dimanakah engkau? Adakah engkau ditaman itu? Atau menyeru alam di lading, menggayuh angan dan mimpi?

Engkau adalah roh Tuhan yang ada dimana mana, engkau lebih perkasa dari waktu. Adakah engkau ingat saat pertama kita berjumpa, kala cahaya jiwamu menyinari kita, dan dewi cinta mengitari, mendendangkan lagu jiwa?
Adakah engkau ingat kala kita duduk di bawah keteduhan dedaunan, yang melindungi kita dari kemanusiaan, bagaikan payung yang melindungi rahasia hati dari segala luka.
Ingatkah saat ketika aku mengatakan selamat tinggal, dan engkau berikan kecupan surge di bibirku. Ciuman itu mengajariku bahwa bibir yang terpagut di dalam cinta, menyingkapkan rahasia langit yang tak terucap oleh lidah!
                                                       Aku Rindu, benar benar Rindu

Aku ingat ketika engkau mencium dan menciumku, dengan air mata membasahi pipi, dan emgkau katakana, “ badan duniawi haus sering berpisah demi tujuan duniawi dan hidup jauh karena maksud duniawi pula. Namun jiwa kita tetap bersatu dalam genggaman cinta, hingga maut dating, dan menyatukan kita di dalam Tuhan “

“ pergilah engkau kekasihku, cinta telah memilihmu sebagai utusannya, taatilah cinta, karena ia adalah keindahan yang membagikan manisnya kehidupan kepada para pengikutnya. Meski tanganku hampa, cintamu tetap menjadi pembelai yang kutunggu, kenanganmu adalah persandingan yang abadi “

Adakah engkau memajang rautku di dinding kenanganmu? Gambaran itu tak lagi mirip wajahku karena nestapa telah memulas wajahku dengan warnanya.
Keluh kesah telah menghias mataku yang selalu membayangkan kecantikanmu.
                                               Biarkan tetes air ini menyampaikan Rinduku

Dimanakah engkau kekasih? Adakah engkau dengar jeritanku ini dari sebrang lautan sana? Adakah engkau mengerti kehendakku?
Dimanakah engkau bintang kejoraku? Hidup menjadi kabur tanpa kehadiranmu, nestapa tekah menguasaiku. Layarkan senyum senyummu ke angkasa, ia akan menjangkau dan menghidupkanku. Tebarkan aromamu ke udara, ia akan menopangku.

Dimanakah engkau kekasih? Duhai, betapa agungnya cinta dan betapa kerdilnya diriku !

1 komentar: